Rabu, 28 Oktober 2015
Selasa, 22 September 2015
Kamis, 17 September 2015
Selasa, 25 Agustus 2015
Rabu, 12 Agustus 2015
renungan ku siang ini

Aku ingin kuat seperti Bima,Aku ingin tangkas dan berani seperti Arjuna,Aku ingin jujur dan bijaksana seperti Yudistira,Aku ingin rupawan seperti Nakula, danAku ingin cerdas seperti Sahadewa.
Semua tahu Panca Pandawa adalah lima kepribadian yang menjadi satu, kesetiaan pada ajaran dharma membuat mereka memenangi perang barata yang termashyur itu. Memerintah dunia dengan kebenaran dan mencapai kedudukan tertinggi pada swarga loka.
Semua penderitaan yang mereka alami sebagai hukuman atas perjudian yang dilakukan, yang mengharuskan mereka mengasingkan diri ke dalam hutan memiliki hikmah memperkuat lahir dan bathin mereka melalui pengalaman-pengalaman yang memberikan anugerah kepada mereka. Diantaranya bertambah kuatnya Bima setelah bertemu dengan saudara tuanya - Hanoman, bertambah saktinya Arjuna setelah bertapa di indrakila dan dianugerahi senjata sakti, serta Yudistira yang mendapatkan restu dari ayahnya langsung - Dewa Yama.
Namun dalam peperangan barata, tidak terhindarkan tindakan-tindakan berdosa harus diambil oleh para Panca Pandawa demi tujuan yang lebih mulia. Hal ini dibayar dengan menjadi penghuni neraka walau hanya selama sepertiga belas hari.
Panca Pandawa sangat menginginkan perdamaian pada mulanya, namun mereka tidak mampu menghindari takdir yang harus mereka lalui. Arjuna-pun demi memuaskan dirinya sendiri sempat menjadi ragu dan tidak mampu bergerak setelah melihat kenyataan yang harus dihadapinya bahwa ia harus melawan sanak keluarganya sendiri, teman, sepupu, guru bahkan kakekya Bisma yang paling dicintainya. Atas nasehat dan pencerahan yang diberikan oleh Sang Krsna, akhirnya ia sadar akan kewajiban yang harus ia tunaikan di perang barata itu. Bahwa ia hanya melakukan apa yang telah digariskan oleh Sang Pencipta untuk tujuan menegakkan kembali dharma di dunia. Akhirnya tanpa ragu Arjuna berperang membasmi musuh-musuhnya di medan perang.
Semua yang terjadi dalam epos besar Mahabarata, terjadi pada diri kita. Perang saudara yang merupakan refleksi dari perang antara kebenaran dan kebatilan terus terjadi di dalam diri kita. Godaan duniawi cenderung membutakan mata dan telinga kita untuk berjalan pada ketidakbenaran seperti yang dilakukan Duryodana sehingga ia menemui kehancuran.
Pada akhirnya jalan mana yang akan kita tempuh dalam menjalani kehidupan ini tergantung pada kita sendiri. Dengan bercermin pada kisah yang dialami oleh Panca Pandawa, hanya dharma yang akan menyelamatkan diri kita dari kehancuran.Renungan
Selasa, 28 Juli 2015
Renungan
Beberapa kesalahan telah tercetak dalam lembar kisah kehidupan. Beberapa mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu dan menghilang, namun ada beberapa yang begitu menodai lembaran tersebut tidak mudah untuk dihilangkan dan membekas. Bercak-bercak noda tersebut mengurangi keindahan daripadanya.
Dalam sebuah perjalanan hidup, kita mungkin tidak menyadari telah melakukan suatu kesalahan dan hal itu adalah manusiawi. Namun berbeda halnya jika kita melakukan kesalahan itu terus-menerus yang dapat diartikan sebagai kecenderungan perilaku yang bodoh.
Manusia tidak berdaya akan godaan duniawi yang menarik kecerdasannya menuju jurang kebodohan apabila ia tidak mampu mengendalikan "kuda liar" pikiran yang menarik "kereta" raganya untuk suatu pemenuhan keinginan. Pada akhirnya ia terjerumus dalam sebuah kesalahan. Namun tidak demikian jika ia memiliki kendali yang hebat dalam mengontrol kuda liar tersebut. Kendali yang mampu membawa keselamatan untuk dirinya. Kendali yang dikenal dengan "kebenaran".
Pengetahuan tentang kebenaran akan menyelamatkan diri dari jalan kesalahan. Namun pengetahuan itu tidak hanya untuk diketahui, tapi harus diresapi dan diamalkan. Dengan demikian raga dan jiwa akan selamat hingga sampai pada tujuan hidup.
Sebuah kesalahan harusnya diketahui dan disadari oleh diri ini sehingga akan mampu menghindari kesalahan yang sama untuk tidak berulang. Dengan pengetahuan tentang kebenaran, perkuat diri dan bentengi diri dari godaan duniawi yang dapat menjatuhkan pada jurang kesalahan.
Selasa, 12 Mei 2015
Kamis, 16 April 2015
Jumat, 19 Desember 2014
gelisah ati
Debur ombak tak henti-henti
Seraya angin menari-nari
Bergulung dan bernyanyi
Membasuh bumi kembali suci
Matahari semakin tinggi
Pertanda akan siang hari
Memanggang bumi laksana api
Menjerit-jerit semua hayati
Manusia serakah hati dengki
Hanya tau mengotori dan cemari
Lupa akan kodrati
Esok jua akan mati
Menangis hati Ibu Pertiwi
Bencana datang silih berganti
Mengingatkan dan memperingati
Dosa anak manusiawi
Senin, 01 Desember 2014
Sabtu, 22 November 2014
Sabtu, 15 November 2014
Ketika apa yang diharapkan tidak terjadi
Ketika apa yang diharapkan tidak terjadi.
Kekecewaan muncul merasuki pikiran, sedih dan marah bercampur menutupi kegembiraan jiwa.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Mimpi dan harapan selalu hadir dalam diri seorang manusia. Menjadi tujuan yang terus diusahakan untuk digapai dalam kehidupan. Dalam proses pencarian jati diri pun terselip harapan yang diidam-idamkan. Namun apa yang sering terjadi adalah semua harapan dan mimpi-mimpi itu begitu susah meraihnya dan terkadang hingga akhir hayat tidak pula terwujudkan. Ketika hal tersebut terjadi maka timbulah kekecewaan dalam pikiran. Sebab harapan itu telah menjadi keinginan yang menutupi kebijaksaan pikiran.
Bukan sebuah pantangan untuk berharap akan sesuatu karena itu bisa menjadi tujuan atas semua yang akan dilakukan dalam kehidupan. Karena hidup tanpa tujuan akan sangat berbahaya dan menyesatkan jiwa itu sendiri.
Yang sering terjadi adalah ketidak-siapan baik mental dan pikiran dalam menerima kenyataan membuat harapan yang menjadi tujuan itu terasa begitu berat. Alih-alih menerima dengan lapang dada, yang pertama muncul adalah sedih, kecewa, marah, menggerutu dan sifat negatif lainnya.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Tanpa harapan atau hanya pasrah saja juga bukan suatu kebijaksanaan.
Kesadaran bahwa apa yang dilakukan merupakan kerja pemenuhan kewajiban dengan memberikan yang terbaik, walaupun terselip harapan diatasnya, namun dibentengi dengan keikhlasan menerima hasil kerja maka tentu tidak akan muncul kekecewaan. Adalah rasa syukur dan legawa yang akan membangkitkan kedamaian dan kebahagiaan baik pikiran, mental dan jiwa.
Senin, 10 November 2014
Senin, 27 Oktober 2014
Langganan:
Postingan (Atom)







































