quote today

tidak ada yang bisa menyakiti diriku tanpa ijinku
Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2015

renungan ku siang ini

Aku ingin kuat seperti Bima,Aku ingin tangkas dan berani seperti Arjuna,Aku ingin jujur dan bijaksana seperti Yudistira,Aku ingin rupawan seperti Nakula, danAku ingin cerdas seperti Sahadewa.


Semua tahu Panca Pandawa adalah lima kepribadian yang menjadi satu, kesetiaan pada ajaran dharma membuat mereka memenangi perang barata yang termashyur itu. Memerintah dunia dengan kebenaran dan mencapai kedudukan tertinggi pada swarga loka.

Semua penderitaan yang mereka alami sebagai hukuman atas perjudian yang dilakukan, yang mengharuskan mereka mengasingkan diri ke dalam hutan memiliki hikmah memperkuat lahir dan bathin mereka melalui pengalaman-pengalaman yang memberikan anugerah kepada mereka. Diantaranya bertambah kuatnya Bima setelah bertemu dengan saudara tuanya - Hanoman, bertambah saktinya Arjuna setelah bertapa di indrakila dan dianugerahi senjata sakti, serta Yudistira yang mendapatkan restu dari ayahnya langsung - Dewa Yama.

Namun dalam peperangan barata, tidak terhindarkan tindakan-tindakan berdosa harus diambil oleh para Panca Pandawa demi tujuan yang lebih mulia. Hal ini dibayar dengan menjadi penghuni neraka walau hanya selama sepertiga belas hari. 

Panca Pandawa sangat menginginkan perdamaian pada mulanya, namun mereka tidak mampu menghindari takdir yang harus mereka lalui. Arjuna-pun demi memuaskan dirinya sendiri sempat menjadi ragu dan tidak mampu bergerak setelah melihat kenyataan yang harus dihadapinya bahwa ia harus melawan sanak keluarganya sendiri, teman, sepupu, guru bahkan kakekya Bisma yang paling dicintainya. Atas nasehat dan pencerahan yang diberikan oleh Sang Krsna, akhirnya ia sadar akan kewajiban yang harus ia tunaikan di perang barata itu. Bahwa ia hanya melakukan apa yang telah digariskan oleh Sang Pencipta untuk tujuan menegakkan kembali dharma di dunia. Akhirnya tanpa ragu Arjuna berperang membasmi musuh-musuhnya di medan perang.

Semua yang terjadi dalam epos besar Mahabarata, terjadi pada diri kita. Perang saudara yang merupakan refleksi dari perang antara kebenaran dan kebatilan terus terjadi di dalam diri kita. Godaan duniawi cenderung membutakan mata dan telinga kita untuk berjalan pada ketidakbenaran seperti yang dilakukan Duryodana sehingga ia menemui kehancuran.

Pada akhirnya jalan mana yang akan kita tempuh dalam menjalani kehidupan ini tergantung pada kita sendiri. Dengan bercermin pada kisah yang dialami oleh Panca Pandawa, hanya dharma yang akan menyelamatkan diri kita dari kehancuran.Renungan 

Selasa, 28 Juli 2015

Renungan

Beberapa kesalahan telah tercetak dalam lembar kisah kehidupan. Beberapa mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu dan menghilang, namun ada beberapa yang begitu menodai lembaran tersebut tidak mudah untuk dihilangkan dan membekas. Bercak-bercak noda tersebut mengurangi keindahan daripadanya.
Namun janganlah bermurung diri, lihatlah lebih luas dari sudut pandang yang lain akan keberadaan noda (kesalahan) itu. Bukankah terlihat sesuatu yang "indah"?.

Dalam sebuah perjalanan hidup, kita mungkin tidak menyadari telah melakukan suatu kesalahan dan hal itu adalah manusiawi. Namun berbeda halnya jika kita melakukan kesalahan itu terus-menerus yang dapat diartikan sebagai kecenderungan perilaku yang bodoh. 

Manusia tidak berdaya akan godaan duniawi yang menarik kecerdasannya menuju jurang kebodohan apabila ia tidak mampu mengendalikan "kuda liar" pikiran yang menarik "kereta" raganya untuk suatu pemenuhan keinginan. Pada akhirnya ia terjerumus dalam sebuah kesalahan. Namun tidak demikian jika ia memiliki kendali yang hebat dalam mengontrol kuda liar tersebut. Kendali yang mampu membawa keselamatan untuk dirinya. Kendali yang dikenal dengan "kebenaran".

Pengetahuan tentang kebenaran akan menyelamatkan diri dari jalan kesalahan. Namun pengetahuan itu tidak hanya untuk diketahui, tapi harus diresapi dan diamalkan. Dengan demikian raga dan jiwa akan selamat hingga sampai pada tujuan hidup.

Sebuah kesalahan harusnya diketahui dan disadari oleh diri ini sehingga akan mampu menghindari kesalahan yang sama untuk tidak berulang. Dengan pengetahuan tentang kebenaran, perkuat diri dan bentengi diri dari godaan duniawi yang dapat menjatuhkan pada jurang kesalahan.

Jumat, 19 Desember 2014

gelisah ati

Debur ombak tak henti-henti

Seraya angin menari-nari
Bergulung dan bernyanyi
Membasuh bumi kembali suci

Matahari semakin tinggi
Pertanda akan siang hari
Memanggang bumi laksana api
Menjerit-jerit semua hayati

Manusia serakah hati dengki
Hanya tau mengotori dan cemari
Lupa akan kodrati
Esok jua akan mati

Menangis hati Ibu Pertiwi
Bencana datang silih berganti
Mengingatkan dan memperingati
Dosa anak manusiawi




Sabtu, 15 November 2014

Ketika apa yang diharapkan tidak terjadi

Ketika apa yang diharapkan tidak terjadi.
Kekecewaan muncul merasuki pikiran, sedih dan marah bercampur menutupi kegembiraan jiwa.
Lalu apa yang harus dilakukan?

Mimpi dan harapan selalu hadir dalam diri seorang manusia. Menjadi tujuan yang terus diusahakan untuk digapai dalam kehidupan. Dalam proses pencarian jati diri pun terselip harapan yang diidam-idamkan. Namun apa yang sering terjadi adalah semua harapan dan mimpi-mimpi itu begitu susah meraihnya dan terkadang hingga akhir hayat tidak pula terwujudkan. Ketika hal tersebut terjadi maka timbulah kekecewaan dalam pikiran. Sebab harapan itu telah menjadi keinginan yang menutupi kebijaksaan pikiran.

Bukan sebuah pantangan untuk berharap akan sesuatu karena itu bisa menjadi tujuan atas semua yang akan dilakukan dalam kehidupan. Karena hidup tanpa tujuan akan sangat berbahaya dan menyesatkan jiwa itu sendiri. 

Yang sering terjadi adalah ketidak-siapan baik mental dan pikiran dalam menerima kenyataan membuat harapan yang menjadi tujuan itu terasa begitu berat. Alih-alih menerima dengan lapang dada, yang pertama muncul adalah sedih, kecewa, marah, menggerutu dan sifat negatif lainnya.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Tanpa harapan atau hanya pasrah saja juga bukan suatu kebijaksanaan.
Kesadaran bahwa apa yang dilakukan merupakan kerja pemenuhan kewajiban dengan memberikan yang terbaik, walaupun terselip harapan diatasnya, namun dibentengi dengan keikhlasan menerima hasil kerja maka tentu tidak akan muncul kekecewaan. Adalah rasa syukur dan legawa yang akan membangkitkan kedamaian dan kebahagiaan baik pikiran, mental dan jiwa.

Rabu, 10 September 2014

Taman Ujung





Salah satu tempat favorit untuk menghabiskan akhir pekan, atau sekedar mencari suasana asri yang dapat menyegarkan pikiran setelah penat oleh berbagai macam kesibukan dan masalah di tempat kerja. Tempat berolahraga sembari menikmati panorama yang indah memanjakan mata tentu saja dengan segarnya udaranya. Mau ngasi makan rusa juga bisa \^.^/

Taman Ujung Sukasada Karangasem Bali.

Sabtu, 04 Januari 2014

Hanya Aku

Apakah semua itu hanya sebuah kebohongan?
Hanya maya-ilusi yang menenangkan
Tidak tentu arah tujuan disebabkan oleh-nya, yang semakin terasa menyakitkan saat mengingatnya.
Semua telah berakhir dan seharusnya cukup sampai disana.
Biarkanlah yang terjadi tetap berjalan pada alur yang benar tanpa campur tangan yang akan menunjukkan apa yang seharusnya dan tanpa penyesalan.
Karena itu,
aku disini hanya ada aku dan ke-aku-an ku
tetap bertahan pada aroma yang original tentang siapa diriku yang sebenarnya.
Walaupun indah untuk memejamkan mata, akan ku pastikan telingaku tertutup dan hatiku tersegel.
Sesuatu yang telah pergi biarlah pergi, karena itu pilihan

Selasa, 10 Desember 2013

HBD

Happy birthday to me ^_^

hahahaha...

Yup hari ini berkurang lagi usiaku di bumi ini, genap 28 tahun masehi telah aku habiskan sebagai penghuni bumi yang semakin hari semakin panas dan terus bergejolak entah oleh alam maupun para penghuninya.

Banyak yang telah terjadi di dalam kehidupan yang selama 28 tahun ini telah ku jalani, banyak pelajaran tentang kehidupan yang terus ku pelajari dan akhirnya aku sadar dan mengerti bahwa hidup adalah suatu proses pembelajaran tentang diri ini sendiri.

Segala yang ada di dunia ini hanyalah sebuah siklus yang terus-menerus berputar tanpa awal dan akhir. Sebagaimana siklus lahir-hidup-mati, siklus air, siklus pagi-siang-sore-malam; kehidupan yang ku jalani juga seperti itu yang mungkin berawal dari pikiran kemudian memunculkan tindakan yang berulang menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter/budaya. Dan dari sebuah budaya lahirlah pengetahuan yang akan terus digali dan dipelajari oleh pikiran yang memulai kembali suatu siklus itu.

Lalu apa yang aku harus risaukan tentang kehidupan ini?
Usia yang semakin berkurang ataukah indahnya kehidupan duniawi?

Dengan adanya siklus itu; telah menunjukkan pada diriku bahwa keabadian di bumi ini tidak nyata, karena semua akan terhenti pada saatnya dan beralih atau memulai tahapan siklus selanjutnya.

Akhirnya mengerti tentang kehidupan adalah mengerti tentang diri ini sendiri. Memahami apa yang menjadi tujuan dalam hidup yang sesunguhnya dan berusaha mencapai tujuan itu adalah yang utama. Apalagi saat kelahiran mengambil wujud sebagai seorang manusia yang dibekali pikiran yang menjadikan manusia itu mulia. Sebab lahir sebagai seorang manusia itu adalah utama karena mampu menolong dirinya sendiri keluar dari 'samsara'. demikian yang tertulis dalam kitab suci kuno.

Akan tetapi apa maksud foto yang ku posting disini (foto pure luhur tanah lot)???
ndah/cantik bukan?? Foto ini ku ambil dua hari yang lalu. Saat berada disana dan mengambil foto tersebut sejenak ku terdiam dalam benakku berkata indah...cantik dan sungguh mempesona panorama yang dianugerahkan oleh sang pencipta. Sejatinya demikianlah hidup itu; indah dan cantik penuh anugerah dari yang maha kuasa dan itu artinya aku harus lebih banyak bersyukur dan memuja-muji kebesaran-Nya pada kesempatan yang telah dianugerahkan kepadaku hingga kini di 28 tahun umur ku sebagai penghuni bumi ini.

Terimakasih Tuhan.

Minggu, 17 November 2013

A song for YOU

there's a moment
when I can see your face
I can see your smile
your laugh to me
there's a moment
when you hold my hand so tight
you hanging on my shoulder
for a while
but where are you now
you leave me all alone
you take away my bright
can't see you in my life
I miss you
I miss you
If I can take a back the time
I can reclaim my fate
I can make you mine
but where are you now
you leave me all alone
you take away my bright
you make me lose my faith
but where are you now
you leave me all alone
you take away my bright
I need you
I need you

Rabu, 13 November 2013

Perubahan dalam ruang waktu

Transformasi atau perubahan selalu menjadi pilihan dalam usaha pencapaian tujuan yang lebih baik. Inovasi dan kreasi yang terus digali melalui riset-riset atau pengembangan, pemutakhiran diklaim untuk menemukan perubahan yang lebih baik. Walaupun dalam suasana yang tidak menyenangkan, naluri manusia untuk terus melakukan perubahan, beradaptasi dengan lingkungan terus menerus tergali yang melahirkan produk-produk baru. Sebagai contoh ketika pada masa perang dunia, dalam kesengsaraan manusia terus menemukan alat-alat baru yang pada saat itu digunakan untuk berperang tapi lambat laun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesungguhnya telah dimulai dari masa pra sejarah. Pada masa manusia purba mulai menciptakan senjata untuk melindungi diri, kemudian menjadi alat-alat yang digunakan untuk bercocok tanam sehingga perubahan budayapun yang diklaim lebih baik terlahirkan. Dari kebiasaan "food gathering" beralih ke kebiasaan "food producing".

Transformasi atau perubahan seakan-akan merupakan kebiasaan yang telah membudaya dalam kehidupan manusia. Manusia yang dianugerahi kemampuan penalaran dan pikiran, akal-budhi yang dapat membedakan, menterjemahkan, memimpikan dan menciptakan suatu cipta/kreasi telah menjadi makhluk yang dianggap paling mulia. Manusia adalah makhluk individu yang mampu bersosialisasi, beradaptasi dengan lebih baik dibandingkan makhluk-makhluk hidup yang lain menjelma menjadi ras pemimpin di dunia. Dengan perubahan/evolusi yang tercipta berawal dari pikiran, lahir sebagai tindakan yang terus-menerus dilakukan sebagai sebuah kebiasaan hingga pada akhirnya membentuk budaya dari peradaban manusia.

Perubahan adalah siklus yang pada akhirnya kembali pada awal mula kondisinya. Seperti kelahiran dan kematian yang dialami oleh setiap makhluk. Seperti ketika seseorang terlahir di dunia, mengalami masa kecil, muda dan tua hingga pada akhinya mati. Perubahan yang dialaminya pada saat mati adalah kembali kepada kondisi awal dimana ia terlahir. Dan hal ini berlaku pada setiap apapun itu. Contoh yang lain adalah siklus air yang terus menerus berputar, berubah wujud yang pada akhirnya kembali pada kondisi awal sebagai air setelah berubah menjadi uap ataupun es yang berbentuk padat. Zaman pun demikian, suatu saat ketika telah mencapai pada puncak evolusinya pasti akan kembali pada kondisi awal dimana sejarah belum tercatat.

Ini adalah sebuah rahasia yang telah diketahui namun tak dipahami oleh sebagian banyak orang. Di dunia yang disebut sebagai dunia fana, dimana keabadian tidak ditemukan manusia terjebak dalam perubahan-perubahan yang membuat dirinya terlupa pada awal kondisi semula. Tentang siapakah dirinya sebenarnya? dan tentang tujuan kehidupan yang dijalaninya. Hanya waktu yang tak berwujud tetapi abadi yang terus ada menjadi saksi yang menyimpan misteri. Waktu yang disebut kala, masa lalu, masa kini dan masa depan.
Waktu yang membagi setiap perubahan, waktu yang membatasi awal dan akhir.


Sabtu, 09 November 2013

Renungkanlah

Pengalaman hari yang lalu tidak patut untuk disesali walaupun itu sangat menyakitkan. Banyak hal yang telah dilakukan mungkin itu salah dan mengakibatkan sesuatu yang buruk, tapi sangat bijak bila tidak menyalahkan diri terhadap apa yang telah terjadi. Jika kita memahami dan meyakini bahwa kita merupakan alat yang digunakan oleh Tuhan untuk menjalankan sesuatu yang  disebut sebagai suratan takdir. Maka penyesalan terhadap masa lalu adalah suatu kesalahan. Mungkin secara sengaja kita melakukan suatu kesalahan atau mungkin juga tanpa sengaja. Kesalahan itu menimbulkan akibat negatif baik untuk diri kita sendiri dan atau orang lain. Oleh karenanya kita menyesal mengapa sampai melakukan kesalahan tersebut. Tapi itu sesuatu yang tidak bijaksana.

Mungkin kita tidak menyadari tentang suratan takdir yang telah dirancang oleh Tuhan bagi ciptaan-Nya. Seseorang di dunia ini sedang menikmati hasil karma yang telah diperbuat di kehidupan yang dahulu. Begitu pula dengan diri kita sendiri. Melalui tangan kita Tuhan menyampaikan hasil karma itu yang harus dihabiskan oleh pemiliknya. Mungkin itu merupakan sesuatu hasil yang buruk atau mungkin sesuatu yang baik, tapi tidak menjadi faktor penentu karena memang seharusnya hasil karma itu dinikmati dan dihabiskan oleh pemiliknya.

Seperti yang terjadi pada masa lalu ketika terjadi perang Barata-Yudha. Ketika Sang Arjuna harus berperang melawan keluarganya sendiri, melawan teman-temannya, melawan guru dan kakeknya yang sangat dihormatinya. Ada keraguan untuk melakukan perang tersebut tapi memang harus dilakukan oleh karena Tuhan sendiri menghendakinya untuk menyampaikan hasil-hasil karma dari orang-orang yang ikut dalam perang tersebut. Termasuk dirinya sendiri.

Dengan menyadari bahwa kita adalah sebuah alat yang digunakan oleh sang pencipta untuk mengatur kehidupan, seperti melakoni sebuah cerita maka kita harus sadar bahwa semua apa yang terjadi maka akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi tidak akan pernah terjadi.
Lebih bijaksana lagi apabila kita menyerahkan segala hasil dari suatu perbuatan kepada-Nya.
Hidup adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi. Tanpa mengikatkan diri terhadap hasil dari kewajiban itu maka niscaya ketenangan dan kedamaian akan kita nikmati.
Tetapi bukan berarti kita boleh melakukan segala sesuatu tanpa memperhitungkan atau hanya untuk memenuhi apa yang kita inginkan. Hukum karma-phala atau yang sering disebut hukum sebab akibat harusnya selalu dipegang teguh dalam menjalankan kehidupan. Jika kita melakukan sesuatu yang buruk maka hasilnyapun akan buruk demikian pula sebaliknya.
Mari menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Minggu, 03 November 2013

Geram

Sewaktu perjalanan balik ke Amlapura di atas kapal motor penumpang penyeberangan dari pelabuhan Lembar menuju Padang bai ada sesuatu yang membuatku geram. Sebenarnya hal ini sangat sering dijumpai dan mungkin sudah terbiasa, tetapi hal ini adalah sesuatu yang salah. Oleh karena itulah geram ketika menyaksikannya sendiri seraya bertanya apakah budaya masyarakat begitu rendah tidak berpendidikan?

Kelakuan membuang sampah tidak pada tempatnya atau sembarangan masih sangat banyak ditemui. Padahal di atas kapal itu sudah dilengkapi dengan tempat pembuangan sampah/tong sampah yang memadai dan himbauan berupa tulisan yang di tempel di dinding-dinding banyak dijumpai. Namun masih saja kelakuan buruk itu dilakukan. 
Parahnya itu dilakukan oleh orang yang sudah dewasa, oleh seseorang yang tentu telah mengenyam tingkat pendidikan yang bukan taman kanak-kanak lagi. Paling tidak untuk membaca tanda larangan bukanlah menjadi masalah dan memahaminya. 

Adalah seorang pria dewasa sedang menikmati seputung rokok di pinggir relling kapal. Didepannya yang berjarak kurang dari satu meter terdapat tong sampah berukuran besar dan diatas tong sampah itu tertempel larangan membuang sampah ke laut. Setelah rokok yang dinikmatinya habis, dengan tanpa berdosa atau perasaan bersalah dan malu ia membuang putung rokok yang masih menyala itu ke laut. Diri ini yang melihat tindakan itu menjadi sangat geram.

Tindakan yang telah dilakukannya bukan hanya soal membuang sampah yang sederhana tapi juga dapat berakibat pada bahayanya keselamatan. Mungkin bila berpikir jauh lebih besar sepuntung rokok yang di buang itu akan berdampak pada pencemaran lingkungan yang mempengaruhi kehidupan biota-biota laut tapi secara sempit tindakannya sangat membahayakan keselamatan penyeberangan kapal saat itu karena putung rokok yang masih menyala itu dapat tertiup angin laut yang kencang dan jatuh di lahan yang mudah terbakar sehingga menyebabkan kebakaran.

Perilaku membuang sampah sembarangan oleh masyarakat masih sering dijumpai. Membuang sampah ke sungai, atau laut atau ditempat yang tidak seharusnya masih banyak dilakukan. Padahal sosialisasi-sosialisasi tentang pentingnya hidup bersih, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bukan sesuatu yang baru. Sudah dari dahulu dingatkan bahwasannya kebersihan adalah sebagian daripada iman, tapi tetap saja masih dilakukan (membuang sampah sembarangan). Mungkinkah ini sudah menjadi budaya di masyarakat?
Semoga diri ini selalu diingatkan akan kejadian menggeramkan tersebut dan menyadarkan diri ini untuk tidak membuang sampah sembarangan.


Minggu, 27 Oktober 2013

Soma -- Chandra -- Bulan

Kali ini mencoba mencari dan menemukan sifat-sifat bulan yang dapat kita renungkan untuk menambah kebijaksanaan sebagai pribadi. Soma atau Chandra atau Bulan adalah sebutan untuk satelit yang mengitari bumi sebagai porosnya. Bumi hanya memiliki satu satelit, bulan pun demikian hanya mengitari bumi ( pastinya donk ). Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu SETIA.

Begitu besar pengaruh keberadaan bulan bagi bumi dan makhluk hidup di dalamnya. Keseimbangan bumi turut dijaga oleh medan gravitasi yang dimiliki oleh bulan. Dapat di lihat dari pasang-surutnya samudera, gejolak lava yang ada di dalam perut bumi. Bulan laksana pendamping/ penasehat yang menjaga agar bumi tetap seimbang. Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu DAPAT MENASEHATI.

Bulan memang tidak bersinar sendiri seperti bintang tapi memantulkan cahaya matahari untuk menerangi bagian bumi yang gelap dalam malam hari. Dengan kekurangan yang dimiliki oleh bulan tapi tetap memberikan seluruh sinar yang diterimanya untuk menerangi bagian bumi yang gelap. Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu PEMURAH.

Bulan selalu menghadapkan "wajah" yang sama ke arah bumi. Tidak pernah terlihat permukaan bulan yang lain akibat waktu berotasi dan berevolusinya sama. seakan-akan bulan tidak mau menolehkan wajahnya untuk mengawasi bumi. Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu SELALU WASPADA.

Ketika bulan tampak sebagai bulan penuh atau purnama. Sungguh indah dan menyenangkan untuk di lihat. Pada masa ini banyak orang menjadikan hari yang baik dan melakukan pemujaan kepada Yang Maha Kuasa. Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu RUPAWAN.

Seorang pengelana di padang pasir atau di lautan luas selain menggunakan bintang untuk navigasi dalam perjalanannya, bulan juga digunakan untuk mengetahui arah mataangin dengan mudah. Bulan juga digunakan untuk menghitung penanggalan dan waktu dan musim.  Dari hal ini dapat kita temukan sifat bulan yaitu PEMBERI PETUNJUK.

Demikian beberapa sifat bulan yang dapat direnungkan. Dan tentu masih banyak lagi sifat-sifat lainnya yang dapat ditemukan dan dijadikan tuntunan dalam pengembangan pribadi. Mari kita cari sifat-sifat bulan yang lain di kesempatan yang lain.

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar kepemimpinan dari sebuah gunung

Semua orang tahu bahwa gunung itu istimewa. Gunung itu besar, megah yang membuat mata takjub dan kagum pada penampakannya. Gunung berdiri tidak disetiap tempat, tidak di setiap daerah memiliki gunung ( termasuk 2 buah gunung kembar\\ ^_^// ). Seperti itulah seharusnya sosok seorang pemimpin ( istimewa ) tidak semua orang bisa tampil menjadi seorang pemimpin. Orang yang istimewa, memiliki kharisma yang besar, wawasan dan pengetahuan yang luas dapat dijadikan pimpinan.

Gunung menjadi sumber kehidupan. Beraneka ragam tumbuhan dan hewan menggantungkan hidup pada suburnya gunung. Bahkan manusia sekalipun tidak akan bisa lepas dari fungsi dan manfaat keberadaan gunung  di dalam kehidupannya. Banyak mata air yang berasal dari lereng-lereng gunung yang mengalir menjadi sungai-sungai hingga ke lembah dan menuju laut. Hutan-hutan di gunung merupakan sumber oksigen dan udara segar, sumber uap air yang tertangkap menjadi butiran-butiran awan hujan. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin, menjadi sumber pengetahuan, sumber teladan dan sumber kebahagiaan bagi setiap orang. Memberikan rasa aman dan tentram, pemberi solusi pada permasalahan yang ada.

Jika kita pernah mendaki gunung, semua kesombongan yang ada di dalam diri ini seperti sirna. Ketika melihat besarnya penampakannya, melihat dalamnya jurang atau menyaksikan tingginya pohon-pohon yang ada di gunung. Sungguh luar biasa besar dan megahnya. Disaat itu pula kita merasa tunduk dan memuja kebesaran sang pencipta dan menyadari betapa kecil dan lemahnya diri ini sebagai seorang manusia biasa.
Demikian pula ketika kita berada di dekat seorang pemimpin yang besar, berkharisma. Seketika kita akan berdecak kagum pada kemampuan dan penampakannya membuat kita memuja dan memuji pesonanya.



Minggu, 22 September 2013

Teknologi

Teknologi adalah kebutuhan tambahan, bukan yang utama. Perubahan zaman diiringi oleh perkembangan teknologi yang ditemukan manusia. Sebagai hasil dari daya cipta dan pikiran manusia. Dengan adanya teknologi kemampuan manusia untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik dapat diwujudkan dengan mudah. Dimulai dari terciptanya alat-alat yang sederhana hingga sampai pada peralatan yang mutakhir dan canggih. 
Memang benar dengan adanya peralatan yang canggih dan modern segala pekerjaan yang sulit untuk dilakukan menjadi mudah untuk dilakukan. Seiring dengan perkembangan pengetahuan yang terus di gali oleh manusia, manusiapun akhirnya bisa menciptakan teknologi yang sangat canggih sehingga dahulu sesuatu yang dipikirkan tidak mungkin, sekarang menjadi mungkin.
Ketergantungan manusia pada peralatan teknologi membuat manusia sedikit demi sedikit mengalami evolusi. Evolusi yang terus berlangsung disegala segi baik itu perilaku, kondisi tubuh, kesehatan, usia dan lain-lain. Jika kita bandingkan manusia zaman dahulu dengan manusia sekarang sangatlah berbeda. Dahulu manusia memiliki tubuh yang besar dan tinggi, usia yang bahkan mencapai ribuan tahun, serta kemampuan intelektual yang sampai saat ini masih digunakan dan di cari dalam ilmu pengetahuan modern.
Manusia zaman sekarang rata-rata memiliki tubuh yang semakin mengecil, usia hidup dibawah 90 tahun (rata-rata). Apakah hal ini sebagai akibat dari ketergantungan manusia pada teknologi?
Ya, sangatlah beralasan, teknologi yang dikembangkan manusia bukanlah buruk tetapi sikap yang begitu bergantung pada teknologi memiliki dampak negatif yang secara tidak sadar melemahkan kondisi manusia.
Bahkan akibat dari ambisi manusia dengan teknologi, manusia secara sadar menghancurkan kondisi alam, pencemaran dan polusi yang semakin parah yang telah merubah kondisi alam sangat ekstrim jika dibandingkan dengan beberapa ratus tahun sebelumnya. 
Karena itu manusia harus bisa kembali pada kebiasaan kuno yang melatih manusia menjadi kuat dan menempatkan teknologi sebagai kebutuhan tambahan bukan sebagai kebutuhan yang utama.

Selasa, 17 September 2013

being happy is simply white

Untuk menjadi bahagia adalah menikmati dan mensyukuri semua yang terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi pada hidup. Segala yang di alami merupakan karunia yang telah menjadi hak atas semua yang dikerjakan. Kadang kala karunia itu tidak sesuai seperti yang kita inginkan, namun kadang sesuai dan tidak jarang melebihi harapan kita. 

Itulah yang menjadi penyebab atas ketidak-bahagian itu. Harapan yang ada pada keinginan di dalam diri. Yang membuat rasa suka dan duka sangat mendominasi dalam pikiran, hati dan emosi. Sehingga keadaan bahagia sulit untuk dirasakan. 

Berdamailah dengan diri sendiri dengan mengendalikan kemarahan, nafsu, ketamakan, mabuk, bingung dan sifat iri hati yang kerap menyebabkan diri ini jatuh ke dalam penderitaan. 

Pahamilah bahwa semua beban tidak terlalu berat oleh karena berkat dan kasih dari Tuhan Yang Maha Esa. Ia adalah awal dan akhir dari segala. Yang menjadi penyebab atas semua semesta. Kepada-Nya lah semua kerja dipersembahkan.

Rabu, 11 September 2013

Hiduplah seperti layang-layang


Siapa yang tidak pernah bermain layang-layang?
Hm.... sayang banget kalau tidak pernah mencoba menerbangkan layang-layang sekali saja. Apa lagi sampai mengadukannya. Sangat menyenangkan pastinya.

Setiap anak pasti akan senang jika diberikan layang-layang. Menerbangkannya di tanah lapang. Melihatnya menari meliuk-liuk dilangit biru. Mengendalikannya mengikuti arah angin.

Tahukah bahwa hidup itu seharusnya seperti layang-layang. Dapat terbang tinggi menggapai langit biru. Mengikuti arah angin untuk terus terbang tinggi. Semua dapat terjadi apabila layang-layang itu adalah layang-layang yang baik, seimbang dan aero dinamis. Karena apabila layang-layang itu tidak seimbang, maka dapat dipastikan tidak akan mampu untuk terbang dan akan terus berputar dan jatuh.

Demikian pula tentang hidup yang kita jalani. Harus bisa seimbang dan baik. Agar mampu menggapai impian yang tinggi setinggi langit biru, mampu menghadapi cobaan, hambatan yang datang seperti angin serta mampu memanfaatkan cobaan itu untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Layaknya sebuah layang-layang.

Jika hidup tidak seimbang, hanya penderitaanlah yang akan terus dihadapi sebagai akibat dari kelemahan diri pribadi.

Kamis, 11 Juli 2013

Hello WorlD

Hello..
Hello...
Hello....

How are you?
genki....

hahahaha :D lama tak muncul lagi nge-blog, dan sekarang aku kembali lagi.

Tak terasa sekarang sudah masuk ke semester kedua tahun ini. Apa saja yang telah terjadi? ( di dunia ku ). Tentu banyak hal yang telah terlewati yang pastinya ada suka dan ada duka. Selain umur yang terus bertambah ( 6 bulan ) ada hal yang kini hilang, berubah namun dunia ku sendiri masih tetap seperti biasa. 

oh iya hampir lupa;
untuk saudara-saudara, teman-teman muslimin dan muslimah selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Semoga sukses sampai nanti di hari kemenangan. Dan tak pula aku ucapkan Mohon maaf lahir dan bathin ya..

Senang rasanya bisa kembali lagi ( dari kemaren kemana aja? )

^_^



Selasa, 19 Maret 2013

Canang

Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali terdapat salah satu jenis upakara yang sangat sederhana ( kecil ) namun memiliki nilai filosofi yang tinggi.

Adalah canang atau yang sering disebut canang sari merupakan nama upakara tersebut. Digunakan sebagai sarana persembahyangan setiap hari oleh masyarakat Hindu Bali.

Canang dibuat dari janur pohon kelapa, berupa wadah yang memiliki delapan sudut. Bagian-bagian dari canang terdapat porosan, kembang rampai, bunga, sampaian uras. 

Canang adalah simbol dari alam semesta, simbol dari bhuwana agung. Bentuk canang yang memiliki sudut delapan merupakan pengejawantahan atau simbol dari semesta  yang memiliki delapan arah mata angin dengan poros ditengah. 

Porosan dibuat dari potongan janur dan daun kapur sirih yang dirangkai menyerupai tanda + diletakkan paling bawah pada alas canang dengan posisi di tengah. Disebut porosan karena merupakan poros dari canag itu sendiri. Memiliki nilai sebagai unsur rwa bhineda ( unsur dualisme ), purusa-prakerthi ( laki-perempuan ), suka-duka, siang-malam unsur dualisme yang selalu ada di alam semesta.

Bunga adalah sebagai lambang, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selalu dilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.

Kembang rampai akan ditaruh di atas susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang kebijaksanaan. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini kita memiliki kebijaksanaan

Pada sebuah canang sering dilengkapi dengan Beras atau wija sebagai lambang Sang Hyang Atma (jiwa) , yang menjadikan badan ini bisa hidup, Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa )yang berwujud Atma.

Sampian Uras. Sampian uras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. Yaitu : Dahrma (Kebijaksanaan), Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan), Pasupati (ketajaman, intelektualitas), Kama (Kesenangan), Eswarya (kepemimpinan), Krodha (kemarahan), Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam), Kala ( kekuatan). Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.

Demikianlah sedikit dari arti sbuah Canang yang sederhana namun syarat dengan nilai filosofi yang begitu kental dan tinggi. Sebagai wujud persembahan yang tulus kepada Sang Pencipta.
 

Kamis, 14 Maret 2013

Senja di tengah arungan..

Salah satu photo sunset yang paling indah yang pernah aku ambil ^_^

Photo ini aku ambil ketika melakukan penyeberangan di selat Lombok menuju pelabuhan Padang Bai - Bali, diatas kapal motor penumpang KMP Andhika Nusantara.

Sejenak aku terdiam ketika mengamati indahnya panorama matahari tenggelam senja itu. Terdiam akan cemerlangnya cahaya sang surya yang beranjak tenggelam di garis cakrawala. Begitu megah pancaran sinar yang terpantulkan oleh mega awan yang berwarna. Begitu bulat kuning bak buah jeruk yang matang sempurna. Namun mata fana ini tetap tertunduk tak kuasa menantang kecemerlangannya, dan hanya bisa mengabadikan indahnya kala itu lewat photo.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan yang telah diberikan, sehingga hamba-Mu ini mampu menikmati anugerah keindahan yang Kau berikan.

Minggu, 10 Februari 2013

bebas

Melepaskan keterikatan pada suatu hal akan memunculkan rasa damai dan bebas. Tidak memiliki ikatan yang dapat melahirkan rasa suka dan atau duka, maka akan terasa tenang. Namun hal ini sangat sulit untuk dilakukan seorang manusia yang begitu memikirkan dan menginginkan keduniawian. Hal ini dapat terjadi apabila seorang manusia mengabdikan seluruh jiwa dan raga hanya untuk menjadi pelayan Tuhan.

Ikatan yang mengikat setiap manusia yang terlahir di dunia adalah hasil kerja yang telah dilakukannya. Setiap kerja yang dilakukan membawa hasil yang harus dinikmati dan akan menjadi ikatan dalam bentuk suka atau duka. Lalu bagaimana cara untuk melepaskan diri dari ikatan itu sedangkan untuk menolak suatu kerja itu adalah tidak mungkin?.

Setiap makhluk tak berdaya pada hukum kerja/karma bahkan Sang Pencipta pun tidak mampu untuk tidak bekerja, karena apabila Beliau berhenti bekerja maka musnahlah semua alam oleh sebab tidak ada yang mengaturnya.

Untuk dapat lepas dari keterikatan adalah dengan melakukan kerja tanpa pamrih, kerja tanpa motif. Melakukan kerja hanya sebagai suatu pemenuhan akan kewajiban dan tugas. Walaupun tidak diharapkan suatu hasil dari kerja pasti akan ada, baik-buruk hasil yang akan datang adalah tergantung daripada kerja itu sendiri. 

Mari jalani setiap kerja pada hidup ini dengan tulus dan berserahlah kepada Sang Maha Kuasa atas hasil dari kerja itu, niscaya kebebasan dan kedamaian dalam diri akan lahir.